Cerita Sex Dengan Marketing Yang Ahli Dan Profesional
Rabu, 15 November 2017
18+,
Agen Capsa Online,
Agen Poker Indonesia,
Agen Poker Tanpa Bot,
Agen Poker Terpercaya,
Agen Poker Uang Asli,
Bandar Capsa Terpercaya,
Bandar Ceme Terpercaya,
cerita dewasa,
cerita hot,
cerita sex
Edit
Agen Poker Online - Aku bekerja disebuah perusahaan dibagian pembelian. Tugasku ya mengurus semua pembelian yang dilakukan kantor, termasuk kontak suppliernya.
Bosku ingin menservis beberapa pejabat yang suka banget maen golf, makanya aku usulkan untuk buatkan membership padang golf aja selama setahun.
Bos setuju, dan dia suruh aku nyari padang golf mana yang bonafit dan tidak terlalu mahal membership feenya. Inilah awal mula terjadinya cerita seks dengan marketing yang ahli dan profesional ini.
Setelah survei ke sana kemari, akhirnya aku kontak salah satu padang golf yang cukup punya nama, dan minta untuk ngirim marketingnya untuk diskusi ma aku. Pada waktu yang telah ditentukan, datanglah seorang perempuan muda yang cantik dan sexy, dari padang golf yang kutelpon.
Agen Poker Online Terpercaya - Dia mengenakan pantalon dan blazer yang tak bisa menyembunyikan kemontokan buah dadanya. aku tak dapat menyembunyikan kekagumanku pada perempuan tersebut, Evelyn namanya.
Mataku jelalatan menelusuri tubuh sexynya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pandanganku fokus ke arah buah dadanya yang montok. Kelihatan Evelyn mengerti apa yang kuinginkan.
Dibukanya kancing blazernya dengan alasan panas, sehingga terlihatlah belahan buah dadanya mengintip dari balik tank topnya yang belahan dadanya rendah. Pembicaraan mengalir cepat, karena dia telah dibekali dengan kebijakan mengenai harga dan lain-lain, maka dia bisa menjawab semua pertanyaan yang kuajukan. Dia membuat janji lagi untuk membawa proposal yang berisikan perjanjian-perjanjian lisan yang telah disepakati. aku melahap tubuhnya dengan pandangan yang penuh napsu.
Pada hari yang dijanjikan, aku menelponnya mengatakan bahwa penanda- tangananproposal akan dilakukan di apartemen kantor saat makan siang. aku juga mengelola beberapa apartment yang disewa kantor untuk tamu-tamu VIP. Kebetulan adaapartment yang sedang tak digunakan, makanya aku mengundang Evelyn untuk keapartment tersebut. Terus terang aku telah sangat tergiur dengan kemolekan tubuhnya.
Evelyn tiba tepat pada waktunya. aku menyambutnya dengan mata berbinar-binar, saat itu dia menggunakan pakaian yang sama jenisnya dengan ketika ketemu pertama kali di kantor. aku santai saja, dasi telah kulepas, tangan baju juga telah kugulung. aku mengajaknya langsung ke meja makan dan menyantap makanan yang telah kusiapkan sembari ngobrol ke sana kemari. Akhirnya obrolan menjurus kearah yang aku inginkan.
Agen Poker Online Indonesia - “Evelyn, kamu cantik sekali, sexy lagi”, rayuku.
“Kalau proposal ditandatangani, saya dapet bonus apa?”.
“Bapak maunya apa?”, tantangnya.
“Maunya Evelyn, boleh gak”, kataku to the point.
“Maksudnya ditemani Evelyn, gitu pak”, jawabnya sembari tersenyum.
“Iya Evelyn nemenin saya di apartment ini, mau gak”, kataku menjelaskan.
“Siapa takut”, jawabnya.
“Tetetapi bapak tandatangani dulu ya persetujuan proposal ini”, jawabnya.
Segera proposalnya kutandatangani, memang aku diberi wewenang untuk menandatangani proposal ini dan kuberikan padanya. Dia tersenyum melihat proposalyang telah kutandatangani, mungkin nilainya melebihi target penjualannya untuk bulan ini.
“Jangan panggil pak, aku kan belum tua, panggil mas aja. aku mau mandi dulu ya, gerah, Evelyn mau mandi bareng?” tanyaku menggoda. Dia hanya tersenyum, aku menghilang ke kamar mandi.
Tak lama kemudian aku keluar hanya dengan mengenakan celana pendek dan T shirt saja, santai.
“Giliranmu, di balik pintu ada kimono baru, pake aja, biar lebih relax ”, katanya sembari tersenyum.
Dia menghilang ke kamar mandi, tak lama kemudian dia keluar dengan hanya mengenakan kimono dari bahan handuk. aku terpana memandangnya, kimono itu pendek hanya 15 cm diatas lutut. Paha dan betis menjadi terlihat, tersingkap ketika dia melangkah. Kimononya melekat erat di tubuhnya, sehingga bokongnya yang besar, pinggangnya yang ramping dan buah dadanya yang membusung tercetak dengan jelas.Kimono itu tak diikatkan sempurna sehingga belahan buah dadanya menyembul di belahan baju.aku duduk di sofa dan Evelyn langsung duduk disebelahku, merapat ketubuhku. Tanganku segera merangkul pundaknya.
“Evelyn, kamu cantik dan seksi sekali”, kataku sembari mencium pipinya.
“Ih, mas genit”, jawabnya manja.
aku mulai mengelus pahanya yang terbuka, kusingkapkan kimononya. Tanganku dibiarkannya mengelus makin ke atas dan berhenti di pangkal pahanya, kimono yang dipakainya makin tersingkap, dia sengaja merengangkan pahanya sehingga aku dapat melihat CD minimnya yang tipis, rambut kemaluannya yang lebat menyeruak di kiri dan kanan CD serta sedikit dibagian atas CDnya.
“Rambut kemaluan kamu lebat ya Evelyn, napsu kamu pasti besar ya. aku suka bercinta dengan perempuan yang rambut kemaluannya lebat”, kataku dengan napas memburu.
“Kenapa begitu mas?’ tanyanya.
“Kalo perempuan rambut kemaluannya lebat, minta nambah terus kalo dientot, binal dan gak puas-
puas”, jawabku.
“Itu bukan binal mas, tetapi menikmati”, jawabnya.
“Itu uda tau, kok tadi nanya”.
Evelyn hanya tersenyum saja. Jariku mulai mengelus pangkal pahanya dan daerah kemaluannya. Dia menggeliat, geli. aku bangkit dan berlutut didepannya. Pahanya kuciumi bergantian, sembari kuremas-remas. Paha terbuka makin lebar sehingga aku makin mudah mengakses daerah kemaluannya. aku jadi makin beringas, tali kimononya kuurai dan kimononya kulepas.
“Wow, Evelyn, kamu merangsang sekali”, kataku sembari memandangi tubuhnya yang hanya berbalut bra dan CD.
“Kita teruskan diranjang yuk”, aku tarik dia bangun dan kugandeng ke kamar.
Dia merebahkan diri di ranjang, setelah kimononya kulepaskan. aku langsung memeluknya. Kuciumi buah dadanya sembari kuremas-remas. Karena terhalang bra, tak lama branya kulepas. aku semakin semangat, kuciumi buah dadanya. Pentilnya kuemut, kugencet dengan gigi dan lidahku. Makin lama makin kuat emutanku dan makin luas daerah buah dadanya yang kuemut. Napsunya juga telah berkobar-kobar. aku membenamkan wajahku di belahan buah dadanya, kemudian bergerak ke bawah pelan-pelan mengarah ke perut. Pusernya kujilati. Dia menggelinjang karena kegelian.
Napsuku makin berkobar saja. aku memeluk pinggulnya dengan gemas, kecupanku terus turun ke arah CDnya, aku menjilati rambut kemaluan yang keluar dari samping CDnya, kemudian kucium daerah kemaluannya dengan kuat. CDnya telah basah sepertinya karena napsunya yang telah berkobar.
“Kamu udah napsu ya Evelyn, CD kamu telah basah begini”, kataku sembari tersenyum.
aku senang bisa merangsang napsunya sehingga dia tampak pasrah saja dengan tindakanku. aku bangkit dan melepaskan semua yang melekat ditubuhku. Kemaluanku telah ngaceng dengan keras, lumayan besar dan panjang. aku menjepitkan kemaluanku di belahan buah dadanya, dan kugerakkan maju mundur. Dia membantu dengan mengepitkan kedua buah dadanya menjepit kemaluanku. Lama-lama gerakan maju mundurku makin cepat, aku jadi merem melek keenakan,
“Baru dijepit buah dada aja udah nikmat Evelyn, apalagi kalo dijepit kemaluan kamu ya”.
Napasnya juga telah memburu, selama ini dia menahan saja napsunya dan membiarkan aku
menggeluti sekujur tubuhnya.
“Evelyn, enak banget deh”, kataku tersengal-sengal.
Kemudian aku berhenti, kemaluan kugesek-gesekkan di buah dadanya sembari terus meremas-
remasnya. Gesekan kemaluanku terus kearah perut, sesekali digesekkan ke lubang pusarnya.Kembali dia menggelinjang kegelian.
Akhirnya, aku melepas CDnya. Rambut kemaluannya yang lebat menutupi sekitar kemaluannya. aku mengangkangkan pahanya makin lebar. Rambut kemaluannya kusingkap dan terlihatlah kemaluannya yang telah basah sekali. aku menggenggam kemaluanku dan kugesek-gesekkan ke
rambut kemaluannya, kemudian kuarahkan ke kemaluannya. Kemaluanku yang keras dan besar menyeruak diantara bibir kemaluannya.
“Mas, gede banget kemaluanmu, masukin semua mas, Evelyn udah pengen dientot”, rengeknya.
aku menggetarkan kemaluanku sembari kumasukkan sedikit demi sedikit ke kemaluannya. Sekarang kepalanya telah terjepit di kemaluannya. Dia menjadi belingsatan karena lambatnya proses memasukkan kemaluanku, padahal dia udah pengen dienjot keluar masuk dengan keras.
“Ayo dong mas, masukin semua, enjot mas, Evelyn udah gak tahan nih”, kembali dia merengek minta dienjot.
Aku hanya tersenyum saja. Pelan tetetapi pasti kemaluanku ambles ke dalam kemaluannya, telah masuk separo. Dia menggerakkan otot kemaluannya meremas-remas kemaluanku, aku terpancing untuk menancapkan kemaluanku semuanya ke dalam kemaluannya.
“Duh mas, nikmatnya, kemaluan mas udah gede panjang lagi, masuknya dalem banget. Kemaluan
Evelyn sampe sesek rasanya”, katanya.
“Tetetapi enakkan”, jawabku.
“Enak banget mas, sekarang dienjot yang keras mas, biar tambah nikmat”, katanya lagi.
Masih dengan pelan-pelan aku mengenjotkan kemaluanku keluar masuk. Sewaktu keluar, yang tersisa di kemaluannya hanya tinggal kepalanya saja, kemudian kuenjotkan ke dalam sekaligus sehingga nancap di bagian kemaluannya yang paling dalam.
“Enak mas, kalo dienjot seperti itu, yang cepat mas”, rengeknya lagi sembari terus mengejang- gejangkan otot kemaluannya.
Aku pun menjadi belingsatan karena remasan otot kemaluannya sehingga enjotanku menjadi makin cepat dan makin keras.
“Gitu mas, aduh enak banget deh mas, terus mas, terasa banget gesekan kemaluan mas ke kemaluan Evelyn, nancepnya dalem banget lagi, terus mas, yang cepat”, katanya terengah- engah keenakan.
aku mempercepat enjotan kemaluanku, caranya masih sama, kutarik tinggal kepalanya saja dan terus kuenjotkan kembali ke dalam dengan keras. itu membuat dia menjadi liar, bokongnya menggelinjang saking nikmatnya dan dia terus merintih kenikmatan sampai akhirnya dia tak dapat
menahan lebih lama.
“Mas, Evelyn nyampe mas”, jeritnya.
Aku masih bertahan juga dengan terus mengenjotkan kemaluanku keluar masuk dengan cara tadi. Nikmat sekali rasanya. Sampe akhirnya, aku menarik kemaluanku keluar dari kemaluannya. Kembali aku menggeser dan menjepitkan kemaluanku yang berlumuran dengan lendir dari kemaluannya di buah dadanya. Dia menjepit kemaluanku dengan buah dadanya dan aku menggerakkan maju mundur. Karena panjangnya, ketika aku mendorong kemaluanku maju, kepalanya menyelip ke dalam mulutnya, diemut sebentar sebelum aku memundurkan kon tolku lagi, berulang-ulang.
“Evelyn, nikmat banget, aku mau ngecret dimulutmu ya Evelyn”, kataku sembari terus memaju mundurkan kemaluanku.
“Kenapa gak Evelyn gecretin di kemaluanku aja mas, aku lagi gak subur kok”, jawabnya.
“Nanti ronde kedua”, jawabku sembari dengan cepet memaju mundurkan kemaluanku.
Buah dadanya makin keras dijepitkan ke kemaluanku. Akhirnya aku mendorong kemaluanku masuk ke mulutnya, segera diemutnya dengan keras.
“Evelyn, aku ngecret Evelyn”, teriakku sembari mengecretkan pejuku kedalam mulutnya.
Dia segera menggenggam kemaluanku dengan tangannya, dikocok pelan sembari terus mengemut kepalanya. Pejuku nyemprot beberapa kali sampe habis, banyak banget ngecretnya sampe meleleh keluar dari mulutnya. Dia menelan pejuku tanpa merasa jijik.
”Aduh Evelyn, nikmat banget ya bercinta sama kamu. Kamu nikmat kan”, kataku terengah”.
“Nikmat mas, Evelyn mau lagi dientot”, jawabnya lemes. Setelah nafsuku menurun, kemaluanku mengecil.
“Mas, lemes aja kemaluannya udah gede, gak heran kalo ngaceng jadi gede banget”, katanya.
“Tetetapi kamu suka kan”, jawabku.
“Suka banget mas. Evelyn suka kalo dientot kemaluan yang besar panjang seperti punya mas”.
“Kamu udah sering dientot ya Evelyn, kayaknya kamu udah pengalaman”.
“Evelyn cuma sering dientot kekasih Evelyn aja mas, kemaluannya gak segede kemaluan mas, dientot mas jauh lebih nikmat”, jawabnya memuji. aku memeluknya dan mencium pipinya.
“Kita istirahat dulu ya Evelyn, kalo udah seger kita bercinta lagi”, karena lemes abis ngentot diapun tertidur dipelukanku. Cukup lama Evelyn tertidur. Ketika dia bangun, hari telah gelap. Dia keluar dari kamar, masih bertelanjang bulat.
Agen Poker Terpercaya - “Kamu tidur nyenyak sekali, cape ya. Kamu mau makan apa. Bisa delivery kok”, kataku.
“Terserah mas aja”, jawabnya.
“Evelyn mandi dulu ya mas”.
Dia kembali ke kamar mandi, aku memesan pizza dari restoran yang ada di lobby apartment. Selesai mandi, dia mengenakan bra dan CD yang lain lagi, tetetapi tetep minim dan sexy. Rupanya dia membawa beberapa CD dan bra yang minim dan sexy. Terdengar bunyi bel, pesananan makanan dateng.
“Kok cepet mas”, tanyanya.
“aku pesen pizza, di lobby bawah kan ada counternya. Kamu suka kan pizza”, jawabku.
“Kalo lagi laper, apa aja doyan kok mas, apalagi yang gede, panjang dan keras banget”, katanya menggoda.
“Kamu merangsang banget Evelyn, memangnya daleman kamu seksi semua kaya begini ya. Asik dong kekasih kamu. Tetetapi ngeliat caranya kamu ngempot, kamu gak cuma bercinta dengan kekasih kamu deh”, jawabku.
“Biar mas napsu terus, makanya Evelyn sengaja bawa beberapa daleman yang seksi begini”,jawabnya sembari mengambil sepotong pizza. Sembari makan, kita ngobrol ngalor ngidul.
“Mas kok tinggal sendiri, gak punya istri atau udah dicere”, tanyaku.
“Belum punya istri kok. Evelyn mau tinggal sama aku, tetetapi gak boleh bercinta dengan kekasih lain”,jawabku.
Dia tak menjawab pertanyaanku, malah bertanya lagi.
“Memangnya mas gak punya perempuan?”
“Dulu punya, tapi kawin sama kekasih lain”, jawabku.
“Kenapa?” tanyanya lagi.
“Soalnya kalo pacaran aku selalu ngajakin bercinta dan dia gak mau”, jawabku terus terang.
“Gak pernah ketemu sama perempuan itu lagi”, lanjutnya bertanya.
“Pernah, beberapa waktu yang lalu aku ketemu dia di Ancol”, jawabku.
“Terus, mas ajak bercinta lagi”, sambungnya.
“Ya iya lah, rupanya dia gak puas dengan suaminya sehingga mau aja aku entotin”, jawabku.
“Wah asik dong, berapa kali mas”, tanyanya lagi.
“Sampe 4 kali, sampe dia lemes banget”, jawabku.
“Wah mas kuat banget, Evelyn dientot 4 kali juga ya mas”, rengeknya.
“Iya sekarang abisin dulu pizzanya. Kamu bener cuma bercinta sama kekasih kamu”, gantian aku yang menginterogasinya.
“Enggak juga sih mas”, jawabnya.
“Terus sama siapa. Om om?” tanyaku lagi.
“Iya mas, dikenalin sama temen, keterusan deh sampe sekarang”, jawabnya terus terang.
“Banyak dong koleksi om om nya”, lanjutku.
“Gak kok mas, Evelyn cuma main sama 3 om aja, itu-itu terus”, jawabnya lagi.
“Pantes empotan kemaluan kamu kenceng banget, telah terlatih ya”, kataku,
“aku mandi dulu ya”, aku masuk kamar mandi.
Dia duduk disofa sembari nonton TV. Gak lama kemudian aku keluar dari kamar mandi hanya mengenakan celana pendek. aku duduk disampingnya dan memeluknya.
“Gak, Evelyn cuma pake daleman”, tanyaku.
“Kan ada mas yang ngangetin”, jawabnya manja.
aku mempererat rangkulanku pada bahunya. Bibirnya segera kulumat dengan penuh napsu. Dia meladeni ciumanku dengan penuh napsu juga, napsuku telah mulai bangkit lagi. aku makin erat memeluknya, tangan kiriku meremas pinggangnya. Kemudian ciumanku beralih ke lehernya.
“Geli mas”, katanya sembari menengadahkan kepala sehingga aku makin leluasa menciumi lehernya. Tangan kananku mulai meremas buah dadanya yang masih dibungkus dengan bra, tak lama kemudian bra kulepaskan sehingga aku lebih leluasa meremas buah dada dan memlintir pentilnya. Pentilnya telah menegang dengan keras, napsunya makin memuncak. Puas dengan lehernya, aku turun lagi ke belahan buah dadanya, kedua buah dadanya kuremas-remas. aku menciumi belahan buah dadanya, kemudian ciumanku merembet ke pentilnya dan kuemut dengan gemas, sementara tanganku masih terus meremas-remas buah dadanya.
“Geli mas”, erangnya keenakan. Emutanku makin keras, dan remasanku juga makin kuat. Pentil yang satu kuplintir dengan jempol dan telunjuk.
“Mas, geli”, rengeknya lagi. Tetetapi aku tak mempedulikannya, terus saja dengan kuremas dan kuplintir. Napsunya telah memuncak, dia menggeliat-geliat keenakan, kemaluannya telah basah dengan sendirinya dan menyerap di CD tipisnya. Dia tak mau kalah. kemaluanku diremasnya dari luar celana pendekku. Telah ngaceng, keras sekali. Celana pendekku dilepasnya dan kemaluanku langsung tegak, besar, panjang dan keras
sekali.
“Mas gedenya, pantes kalo telah masuk kemaluan Evelyn jadi sesek banget rasanya”, katanya sembari meremas-remas kemaluanku.
“Mas, terusin diranjang yuk”, ajaknya.
“Udah napsu ya Evelyn”, jawabku sembari bangkit ke kamar bersamanya.
Di kamar aku memeluknya dari belakang, sembari menciumi lehernya dan telinganya sampai dia menggelinjang kegelian, buah dadanya kembali kuremas- remas. Kemaluanku keras menekan bokongnya. Segera, CDnya kupelorotin dan dia kutarik ke ranjang. aku berbaring disebelahnya yang
telah telentang. Kembali jempol dan telunjukku memlintir-mlintir pentilnya yang telah mengeras
karena napsu sembari menciumi lehernya lagi. Dia menjadi menggeliat-geliat kegelian. Ciuman
kemudian kupindah ke bibirnya, kulumatnya bibirnya dengan penuh napsu. Dia menyambut ciumanku
dengan tak kalah napsunya. aku menindihnya, kucium kembali ke lehernya, kemaluanku yang keras
menggesek-gesek pahanya. Puas dengan leher, aku kembali menyerang buah dadanya. aku menciumi
belahan buah dadanya dan kemudian mengemut pentilnya. Pentilnya kukulum- kulum dan
kumainkan dengan lidah.
“Mas, geli”, katanya melenguh, tetetapi aku tak perduli.
Aku terus saja mengulum pentilnya yang mengeras sembari meremas buah dadanya. aku melakukannya bergantian antara buah dada kiri dan kanan sementara kemaluan terus saja kugesek-gesekkan ke pahanya, dia mengangkangkan pahanya. aku kembali menciumi lehernya dan mengarahkan kepala kemaluanku ke kemaluannya. Kuputar- putar kepala kemaluanku dirambut kemaluannya yang lebat. Dia telah gak tahan, segera diraihnya kemaluanku sembari mengangkangkan pahanya lebih lebar lagi.
“Mas, gedenya, keras banget”, katanya mengarahkan kepala kemaluanku ke kemaluannya.
aku pun menggetarkan kemaluanku sehingga kepalanya mulai menyelinap masuk ke kemaluannya. Kepalanya telah terbenam di dalam kemaluannya. Terasa kemaluanku yang besar mulai mengisi kemaluannya pelan- pelan, nikmat banget rasanya.
“Terus masukin mas, enak banget deh”, erangnya keenakan. Tetapi aku menghentikan gerakan kemaluanku, hanya kugerakkan pelan-pelan, sehingga hanya kepalanya saja yang menancap.
“Mas terusin dong, masukin semuanya mas biar sesek kemaluan Evelyn, ayo dong mas”, protesnya.
Tetetapi aku tetep melakukan hal yang sama sembari menciumi keteknya.
“Geli, mas, ayo dong dimasukin semua kemaluannya mas”, rengeknya terus.
Tiba-tiba aku menghentakkan kemaluanku dengan keras sehingga kemaluanku meluncur ke dalam kemaluannya, amblas semuanya.
“Akh, mas” erangnya kaget.
aku diam sesaat, membiarkan kemaluanku yang besar dan panjang itu menancap semuanya di kemaluannya. Kemudian mulailah kuenjot, mula-mula perlahan, makin lama makin cepat kemaluanku keluar masuk kemaluannya.
“Enak Evelyn? ”, tanyaku sembari terus mengenjot kemaluannya.
”Enak banget mas, kemaluan mas kan besar, panjang dan keras banget. Kemaluan Evelyn sesek rasanya keisi kemaluan mas. Gesekannya terasa banget di kemaluan Evelyn. Mau deh Evelyn tinggal sama mas, asal Evelyn dientot tiap malem”, jawabnya.
“Bener nih”, kataku dengan penuh semangat terus mengenjotkan kemaluanku keluar masuk.
Kemudian aku merubah posisi tanpa mencabut kemaluanku dari kemaluannya. Kakinya kuangkat satu keatas dan aku merebahkan diri miring. Enjotan kemaluan terus kulakukan, dengan posisi itu terasa kemaluanku masuk lebih dalem lagi dan gesekannya lebih hebat lagi ke kemaluannya. aku terus mengenjotkan kemaluanku, sementara kedua buah dadanya kuremas-remas bergantian. Pentilnya juga kuplintir-plintir perlahan. Nikmat banget rasanya bercinta seperti itu.
“Enak mas”, erangnya. Enjotanku makin lama makin cepet dan keras.
“Terus mas, enak banget”, erangnya untuk kesekian kalinya.
“Mas nikmat gak?” tanyanya.
“Enak banget Evelyn, empotan kemaluanmu kerasa sekali, kemaluanku serasa diremes dan diisep, lebih nikmat dari emutan mulutmu”, jawabku sembari terus mengenjotkan kemaluanku keluar masuk.
“Terus mas, lebih keras mas, Evelyn hampir nyampe”, erangnya lagi. aku terus mengenjotkan kemaluanku keluar masuk, makin cepat. Dia merintih-rintih keenakan, akhirnya dia tak bisa menahan lebih lama.
“Mas, Evelyn nyampe, akh”, terasa kemaluannya berkedut- kedut meremas kemaluanku yang masih keras sekali itu. Tubuhnya mengejang.
Aku menghentikan enjotanku dan menurunkan kakinya. Dia terbaring mengangkang dengan kemaluanku yang masih menancap di kemaluannya, aku kembali ke posisi semula: menelungkup diatasnya.
“Mas, lemes banget deh”, lenguhnya.
“Tetetapi enak kan”, jawabku.
“Enak banget mas, terusin aja mas, kan mas belum ngecret”, jawabnya terengah-engah.
“Mas, hebat banget deh bercintanya, belum pernah Evelyn dientot dengan gaya seperti tadi, enak banget mas”, katanya lagi.
Aku kembali mendekapnya dan kemaluan mulai kuenjotkan lagi keluar masuk kemaluannya, perlahan. Dia mulai mengedutkan otot kemaluannya meremas kemaluanku yang sedang bergerak keluar masuk kemaluannya. aku melumat bibirnya, satu tanganku meremas-remas buah dadanya
sedang tanganku satunya lagi menyangga tubuhku. Pentilnya juga kuplintir-plintir, napsunya mulai bangkit lagi.
“Enak mas, terus yang kenceng ngenjotnya mas”, erangnya.
Sembari terus melumat bibirnya, enjotan kemaluan kupercepat. aku menyelipkan kedua tanganku ke punggungnya. Dia pun memeluk dan mengusap-usap punggungku yang basah karena keringat. Kemaluan makin cepat kuenjotkan. Setiap kali masuk kemaluan kuenjotkan dengan keras sehingga nancep dalem sekali di kemaluannya, makin lama makin cepet.
“Evelyn, kemaluanmu enak banget, empotan kemaluanmu kenceng banget Evelyn”, erangku.
“Mas, terus mas, hebat banget deh mas ini, Evelyn telah mau nyampe lagi, yang cepet mas”, akhirnya kembali dia mengejang sembari melenguh.
“Mas, Evelyn nyampe, mas…”
Aku terus saja mengenjotkan kemaluanku keluar masuk dengan cepat sampe akhirnya akupun mengejang sembari menancapkan kemaluanku sedalam-dalamnya di kemaluannya.
“Evelyn, aku ngecret”, bersamaan dengan itu terasa pejuku nyemprot dengan dahsyatnya dalam kemaluannya.
Nikmat banget rasanya walaupun sekarang lebih lemes ketimbang tadi siang. Beberapa saat kami terdiam, saling berpelukan menikmati permainan yang baru usai. aku menciumi lehernya, dan dia mengusap-usap punggungku. Nikmat banget bercinta dengan dia.
“Mas, nikmat ya mas, Evelyn mau deh tinggal bareng mas, asal tiap malem dientot ya mas”, katanya pelan.
“Tetetapi kamu gak boleh bercinta dengan lelaki lain ya Evelyn, karena kamu telah aku punya”, jawabku.Dia tak menjawab, kemudian aku mencabut kemaluanku yang telah mengecil darikemaluannya, kemaluanku berlumuran peju dan cairan kemaluannya.
“aku ngantuk Evelyn, tidur yuk”, kataku sembari berbaring disebelahnya, tak lama kemudian akupun terlelap lagi. Lemes, cape tetetapi nikmat banget.
Semaleman kita berdua tertidur, aku terbangun ketika hari telah mulai remang-remang terang. Evelyn pun ikut terbangun, dan dia segera ke kamar mandi. Karena harus kerja lagi, aku segera ke kamar mandi. Keluar dari kamar mandi dia masih bertelanjang bulat sembari mengeringkan tubuh
dengan handuk. aku masuk ke kamar, dari belakang aku memeluknya,
“Ngapain mandi Evelyn, kan masih mau satu ronde lagi”, aku mencium lehernya sembari meremas-remas kedua buah dadanya dengan napsu.
Kemaluanku yang telah mengeras kugeser-geserkan ke bokongnya. Dia menggelinjang kegelian, aku terus saja menciumi lehernya. Kemudian ciumannya bergeser ke bawah, ke punggungnya sampai akhirnya ke bongkahan bokongnya. Dia hanya mendesah- desah ketika aku menyapu bongkahan bokongnya dengan lidahku. Pahanya kurenggangkan dan lidahku menyapu kemaluannya dari belakang.
“Mas, nikmat banget”, katanya sembari menunggingkan bokongnya ke belakang.
“Jilat terus mas, jilatin semuanya”, katanya terengah.
Aku membuka belahan bokongnya dan menyapu lobang bokongnya sampe ke kemaluannya. aku menjilati kemaluannya yang telah basah kuyup saking napsunya. Dia sempat menjerit kecil ketika aku mencolok kemaluannya dengan lidahku. Kemudian aku berdiri lagi, ciumanku kembali bergeser ke atas, ke punggungnya. Kedua tanganku meremas-remas buah dadanya dari belakang, beberapa kali dia tersentak nikmat ketika kedua pentilnya kuplintir-plintir dengan jariku. Tangannya menjalar ke belakang, meremas kemaluanku yang telah keras sekali dan mengurutnya dari atas ke bawah.
Dia kubalikkan sehingga berhadapan dengan aku, buah dadanya mulai kujilati dan pentilnya kuisap-isap bergantian. Napsunya makin memuncak ketika aku menyodok-nyodok kemaluannya dengan telunjuk. Dia berdiri mengangkang.
“Enak mas”, erangnya.
Permainan kuhentikan, aku duduk diranjang dengan kaki agak mengangkang, dia segera berlutut diantara kedua kakinya. Kemaluanku berdiri tegak dan keras sekali sehingga tampak urat-uratnya menonjol. Segera dia mencekal kemaluanku dan dengan ganas dia menciumi kemaluanku. aku sedikit mengerang sembari merebahkan tubuhku ke atas ranjang. Diapun segera beraksi.
Dijilatinya kemaluanku dari pangkal sampai ke kepala. Lalu diisap, dikulum dalam mulut sementara tangan kirinya mengelus-elus biji pelirku. beberapa kali tubuhku tersentak karena nikmat. Lalu dijilatinya biji pelirnya.
“Aaahhkk”, aku mengerang kenikmatan, mendengar itu dia tambah gairah.
Terus dijilatinya biji pelirku. Sementara tangan kanannya mengurut-urut kemaluanku. dengan kedua tangan diangkatnya kedua pahaku sehingga kedua lututku hampir menyentuh dadaku. dengan posisi demikian dia leluasa menjilati kemaluanku. Dari ujung kepala sampai ke sekitar biji pelirnya. Lalu dia menjilat semakin kebawah.. kebawah.. dan akhirnya ujung lidahnya menyentuh bokongku yang berbulu itu. Segera lidahnya menari-nari di bokongku. Tubuhku beberapa kali bergetar.
“Aakkkh..Oougghh”, erangku.
Mendengar itu dia tambah bernapsu. Dicolok-coloknya lobang bokongku dengan ujung lidahnya. Semakin dalam juluran lidahnya ke dalam lobang bokongku, semakin bergetar tubuhku, kemaluanku yang dikocoknya terasa berdenyut- denyut. aku telah tak tahan. Lalu aku memegang tangannya dan membimbingnya naik ke atas ranjang. Dia kusuruh menungging diatas ranjang. aku menginginkan doggy style. Sebelum mencobloskan kemaluanku, aku sekali lagi memperhatikan bentuk kemaluannya dari belakang, dia pun menanti penuh harap. Dan akhirnya kemaluan kutempelkan dibibir kemaluannya dan kumasukkan perlahan-lahan ke dalam kemaluannya, terasa seret tetetapi nikmat.
“Oohh.. Nggk… Ahhh”, desisnya ketika seluruh kemaluanku amblas.
Lalu aku mulai melakukan gerakan erotisku. Nikmat sekali. Dan dia cepat sekali nyampe dalam posisi demikian. aku belum mau nyampe. Lalu kusuruh dia berbaring miring. Sementara aku berada dibelakang punggungnya. Dia segera menekuk kedua lututnya. Dan membiarkan aku mencobloskan kemaluanku ke dalam kemaluannya. Nikmat sekali. Dalam posisi demikian tangan kananku leluasa meremas- remas buah dadanya dari belakang. Hentakan kemaluanku makin lama makin keras dan cepat.
“Evelyn, aku mau ngecret dimulutmu lagi”, kataku.
“Kenapa mas, kan lebih enak ngecret Evelynonokku”, jawabnya.
Aku menghentikan gerakanku. Lalu aku mencabut kemaluan dari kemaluannya. Dan dengan gesit diapun berlutut disampingku. Dia segera menjilati kemaluanku yang berlendir itu. Lalu diisap-isap kemaluanku keras dan berurat itu.
“Ooh.. Nggkk.. Aakk”, erangku keenakan.
Dia semakin mempercepat gerakan kepalanya naik turun, beberapa kali aku mengerang sembari mengeliat, tetetapi belum ngecret juga. Lalu dia membasahi telunjuk tangan kirinya dengan ludah, setelah itu dicucukannya telunjuk jarinya itu ke dalam bokongku. Tubuhku sedikit tersentak ketika dia menekan jarinya lebih dalam lagi ke lobang bokongku. Nikmat luar biasa, dengan isapan pada kemaluanku dan sodokan jari di bokongku. Hingga,
“Aaahh… Aaakkhh”, aku mengerang hebat bersamaan dengan menyemburnya pejuku dalam mulutnya.
Crott.. Croot, banyak sekali sehingga kembali meleleh keluar dari mulutnya. Pejuku ditelannya. Lalu aku mengeluarkan kemaluanku dari dalam mulutnya. Tampak sedikit sisa-sisa pejunya masih keluar. Dan dia segera menyapunya dengan lidahnya.
“Hebat… Hebat sekali kamu Evelyn.” pujiku, dia hanya tersenyum saja.
“Terima kasih buat proposalnya ya mas, aku tunggu proposal berikutnya. Kalo mas perlu Evelyn, call saja, dengan segala senang hati Evelyn bersedia melayani mas kapan saja mas mau”, jawabnya. Dia membersihkan diri lagi, demikian juga aku. Kemudian dia kuantara pulang karena dia harus
segera masuk kantor, demikian pula aku.
Post By : PokerAstro.me





